BeritaKesehatanPendidikan\Politik

Harus ditolak, Klaim “Pembenaran Sejarah” Israel atas Palestina

Infoindonesia
46
×

Harus ditolak, Klaim “Pembenaran Sejarah” Israel atas Palestina

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
Ket Foto: Webinar Internasional “Defending Gaza, Protecting Palestine” yang digelar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Jumat 15 Agustus 2025 (Foto: Humas UMJ)

Jakarta, Infoindonesi.net – Dunia harus menolak upaya Israel memperluas wilayahnya dalam bentuk penjajahan atas Palestina seperti terlihat dengan rencananya mencaplok Jalur Gaza Palestina dan mengusir jutaan penduduknya, bahkan melakukan tindakan genosida dengan menggunakan ”pembenaran sejarah”.

Demikian poin penting dari diskusi dalam webinar internasional ”Defending Gaza, Protecting Palestine” pada 15 Agustus 2025 yang digelar oleh Program Studi Magister Ilmu Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Example 300x600

Webinar itu menghadirkan pembicara Dr. Daud Abdullah dari Middle East Monitor yang berkantor di Inggris; Dr. Muslim Imran, Executive Director of Asia and Middle East Center for Research and Dialogue (AMEC) dari Kuala Lumpur Malaysia; dan Dr (Cand) Ali Noer Zaman, dosen Prodi Ilmu Politik FISIP UMJ.Pembicara lain adalah Annisa Theresia M.Si, mahasiswi Magister Ilmu Politik FISIP UMJ, dengan moderator Ella S Prihatini Ph.D., dosen Prodi Ilmu Politik FISIP UMJ; dan MC Andrea dari AMEC Jakarta.

Dr. Muslim Imran menjelaskan, Israel belakangan ini sering mengangkat adanya apa yang diklaim sebagai “Israel Raya” (Greater Israel) yang meliputi sebagian dari wilayah Timur Tengah. Padahal, menurut dia, tidak pernah ada apa yang disebut negara Israel Raya sejak jaman kuno.

Suku-suku keturunan Israel hidup di wilayah Palestina dengan suku-suku lainnya, sehingga tidak benar tindakan ekspansi Israel untuk membangun peninggalan sejarah berupa Israel Raya. Oleh karena, menurut Dr. Muslim, dunia harus menolak dengan tegas alasan Israel melakukan penjajahan di Palestina.Ia menilai, apa yang dilakukan Israel sekarang adalah tindakan genosida terhadap bangsa Palestina, dan tidak pernah terjadi dalam sejarah tindakan seperti itu dilakukan secara terang-terangan bahkan sudah berlangsung puluhan tahun.

Dalam webinar itu Dr. Muslim juga mendorong Indonesia untuk melakukan tindakan yang tegas dalam mendukung Palestina, tidak hanya sekedar pernyataan-pernyataan dukungan. Indonesia juga harus menegaskan tidak mendukung relokasi warga Palestina dari Gaza. Dalam presentasinya pembicara lain, mahasiswa Magister Ilmu Politik UMJ Annisa Theresia memperlihatkam foto dan video bagaimana genosida terus dilakukan oleh Israel.

Ia menjelaskan, pembunuhan terhadap para pencari bantuan kemanusiaan di Gaza dilakukan sebagai bagian dari kampanye pengusiran warga Gaza oleh Israel.Annisa juga memperlihatkan bagaimana tindakan Israel yang dengan sengaja membuat kelaparan warga Gaza serta merekayasa adanya gangster yang melakukan tindakan diluar perikemanusiaan terhadap warga Gaza.

Aktivis untuk pembebasan Al-Aqsha itu juga menegaskan bahwa pembicaraan tentang pembebasan Palestina tidak hanya sekedar fokus kepada Tepi Barat dan Jalur Gaza, tetapi pada tanah Palestina sebagai daerah yang diberkahi karena adanya Masjid Al-Aqsha sebagaimana dinyatakan dalam Surat Al-Israa.

Oleh sebab itu, lanjutnya, mereka yang mendukung pembebasan Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina adalah pahlawan, dan bukan teroris seperti dituduhkan Israel. Ia juga menegaskan, peristiwa yang terjadi saat ini di Gaza bukanlah perang, namun tindakan genosida oleh Israel.Sementara itu, dari Inggris melalui zoom meeting, Dr. Daud Abdullah menegaskan, karena Netanyahu sudah dinyatakan sebagai penjahat internasional pelaku genosida, maka dia harus ditangkap.

Namun dunia tidak mampu mendukung Mahkamah Internasional dalam melakukan penangkapan terhadap Pemimpin Israel itu. Netanyahu bahkan bebas pergi ke berbagai negara di dunia termasuk bolak-balik ke Amerika Serikat.

Dr. Daud juga menegaskan, Gaza telah menjadi bagian dari perjuangan Palestina sejak berdirinya Israel yang diakui PBB pada 1947 dan 1948. Namun kondisinya kini sudah semakin parah, dimana penjajahan Israel terus diperluas. Namun Dr. Daud mencatat, saat ini sudah banyak negara, termasuk di Eropa yang mengakui negara Palestina.

Sementara itu Dosen Ilmu Politik dan Kandidat Doktor Ali Noer Zaman MA menyatakan, dunia telah terpanggil untuk menegakkan keadilan dan keamanan di Palestina, dan melindungi Gaza berarti melindungi warisan dan identitas yang kaya dari sisi budaya Palestina.

Ali mengingatkan lagi komitmen Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955 yang mendukung kemerdekaan Palestina, sesuai landasan konstitusional yang menolak penjajahan di muka bumi.Ia juga mengemukakan, Indonesia, seperti dijelaskan Presiden Prabowo Subianto, konsisten membantu sepenuhnya Palestina serta mendorong terciptanya dua negara, Palestina dan Israel.

Indonesia dikatakan akan mengakui Israel jika Palestina sudah merdeka.Sebelumnya, dalam pembukaan seminar, Dekan FISIP UMJ, Prof. Dr. Evi Satispi mengemukakan, tragedi di Gaza tidak hanya merupakan krisis kemanusiaan, tetapi juga ujian bagi sistem internasional serta ujian bagi nilai-nilai moral dan komitmen kepada keadilan.

Example 300250
Example 120x600