Berita

Rakyat Ini Menanti Bukan Sekadar Sandiwara Yohanes Ontot vs PETI: Sandiwara Bupati Sanggau Lebih Seru Ketika Narkoba Menganggur di Rutan

Infoindonesia
294
×

Rakyat Ini Menanti Bukan Sekadar Sandiwara Yohanes Ontot vs PETI: Sandiwara Bupati Sanggau Lebih Seru Ketika Narkoba Menganggur di Rutan

Sebarkan artikel ini
Bupati Sanggau Yohanes Ontot berencana menggempur PETI, tapi rakyat bertanya: "Mana tindakan nyata untuk narkoba dan lapangan kerja?
Bupati Sanggau Yohanes Ontot berencana menggempur PETI, tapi rakyat bertanya: "Mana tindakan nyata untuk narkoba dan lapangan kerja?
Example 468x60

SANGGAU, Infoindonesia.net – Di sebuah kabupaten yang dikelilingi hutan dan sungai-sungai emas, seorang bupati berdiri gagah, mengepalkan tinju ke langit, bersumpah akan memberantas PETI—Pertambangan Emas Tanpa Izin.

Rakyat berdecak, tapi bukan kagum. Mereka malah bertanya: “Lho, kok PETI? Bukannya narkoba yang lebih ganas di sini?”

Example 300x600

Ya, inilah ironi Sanggau. Di saat Rutan Sanggau dipenuhi 70% penghuni kasus narkoba, sang bupati justru sibuk memerangi emas liar.

Seolah-olah PETI adalah musuh utama, sementara narkoba hanya tamu tak diundang yang boleh mondar-mandir bebas.

Bupati Ontot dan Mimpi Besar Salah Alamat

Yohanes Ontot, sang bupati, dengan semangat bak pahlawan sinetron, berkoar tentang operasi besar-besaran melawan PETI. Tapi, seperti kata warga yang enggan disebut namanya.

“Bupati ini kayak orang kejar tayang. Salah sasaran. Narkoba merajalela, tapi malah sibuk urus emas.”

Faktanya, izin pertambangan bukanlah wewenang bupati. Seperti diungkapkan Cornelis, mantan Gubernur Kalbar yang kini duduk di Senayan: “Urusan PETI itu ranah pusat. Bupati ngapain ribut?”

Gregorius Herkulanus Bala, Bupati Sintang, bahkan lebih blak-blakan. “Mau larang PETI? Wong ngasih izinnya saja kita nggak boleh!”

Jadi, apa sebenarnya yang sedang dimainkan Ontot? Teater politik atau sekadar pencitraan?

Narkoba vs PETI, Siapa Musuh Sebenarnya?

Sanggau bukanlah negeri dongeng. Di balik gemerlap emas hitam, ada epidemi narkoba yang menggerogoti generasi muda. Data Rutan Sanggau berbicara jelas: 70% narapidana adalah pecandu atau pengedar.

Tapi, alih-alih menggerakkan dinas terkait untuk operasi anti-narkoba, Ontot justru sibuk menggalang pasukan melawan PETI.

Seolah-olah emas liar lebih berbahaya daripada sabu-sabu yang merusak otak anak muda.

“Kalau mau berantas PETI, ya silakan. Tapi jangan lupa, narkoba juga perlu dibasmi. Jangan cuma pilih-pilih musuh,” sindir seorang warga setempat.

Kewenangan Hanya Jadi Bahan Candaan

Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan bupati jika wewenangnya terbatas?

Gregorius Bala sudah memberi contoh: “Fokus saja pada urusan daerah—pendidikan, kesehatan, lapangan kerja.”

Tapi Ontot? Dia memilih jalan lain, berteriak melawan PETI, meski tak punya kuasa untuk menghentikannya.

Sementara, angka pengangguran di Sanggau tetap tinggi, infrastruktur jalan masih berlubang, dan masyarakat menunggu janji-janji pembangunan yang tak kunjung terwujud.

“Ini bukan salah PETI, tapi salah kebijakan yang tidak menyentuh akar masalah,” tukas seorang ekonom.

Di tengah hingar-bingar janji operasi PETI, rakyat Sanggau hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka butuh tindakan nyata:

Penanganan Narkoba yang Serius – Jangan sampai Rutan Sanggau jadi “asrama” pengedar.

Lapangan Kerja, Bukan Janji Kosong – PETI muncul karena tak ada alternatif ekonomi.

Transparansi Kebijakan – Jangan jadikan PETI sebagai kambing hitam kegagalan pembangunan.

“Kalau mau jadi pahlawan, jangan cuma di depan kamera,” desak seorang ibu rumah tangga.

Operasi PETI mungkin akan jadi headline media. Tapi, tanpa tindakan konkret terhadap narkoba dan pengangguran, semua itu hanya akan jadi episode baru sinetron politik Sanggau.

Rakyat sudah lelah dengan drama. Mereka butuh pemimpin yang berani hadapi masalah, bukan sekadar cari musuh agar terlihat gagah. (ARP)

Example 300250
Example 120x600