Sebuah Satir tentang Perjalanan dari Bebas Aktif ke Pragmatis Tanpa Arah
Oleh: Syarif Usmulyadi Pengamat Sosial Politk, Dosen Senior Fisipol UNTAN
Ada masa ketika Indonesia berdiri tegak di panggung dunia sebagai bangsa dengan prinsip. Bukan sekadar negara berkembang yang mencari posisi aman, melainkan aktor yang merumuskan arah. Politik luar negeri “bebas aktif” bukan jargon kosong, melainkan strategi etik: tidak terseret arus kekuatan besar, tetapi tetap aktif membentuk tatanan global yang lebih adil. Dari Konferensi Asia-Afrika hingga peran dalam Gerakan Non-Blok, Indonesia pernah menjadi penentu, bukan pengikut.
Kini, kita seperti menyaksikan sebuah pergeseran—bukan hanya taktis, tetapi filosofis. Dari non-blok ke “go-blok”: sebuah kondisi ketika arah bukan lagi ditentukan oleh prinsip, melainkan oleh reaksi cepat, kepentingan sesaat, dan kalkulasi yang sering kali tampak dangkal. Satir ini tidak lahir dari kebencian, melainkan dari kegelisahan—karena ketika arah hilang, negara besar bisa tersesat seperti perahu tanpa kompas.
Bebas Aktif: Dari Prinsip ke Retorika
Konsep “bebas aktif” yang dirumuskan sejak era Soekarno bukan sekadar netralitas. “Bebas” berarti tidak terikat blok kekuatan global, sementara “aktif” berarti berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dan keadilan dunia. Ini adalah posisi yang membutuhkan kecerdasan strategis, keberanian politik, dan konsistensi nilai.
Namun dalam praktik mutakhir, “bebas aktif” tampak semakin kehilangan substansi. Bebas berubah menjadi bebas arah. Aktif berubah menjadi reaktif. Indonesia hadir di berbagai forum internasional, tetapi sering kali tanpa gagasan besar yang mengikat. Diplomasi berubah menjadi parade kehadiran, bukan artikulasi kepentingan.
Pragmatisme atau Kebingungan?
Pemerintahan Prabowo Subianto tampak mengusung pendekatan yang lebih pragmatis dalam politik luar negeri. Secara teori, pragmatisme bukan sesuatu yang salah. Dalam dunia yang multipolar dan penuh ketidakpastian, fleksibilitas adalah aset.
Namun pragmatisme tanpa kerangka nilai akan mudah tergelincir menjadi oportunisme.Kita melihat kecenderungan “merapat ke semua pihak”—Amerika Serikat, China, Rusia—tanpa diferensiasi posisi yang jelas. Alih-alih memainkan peran sebagai penyeimbang, Indonesia justru tampak seperti penonton yang berusaha duduk di semua kursi sekaligus. Hasilnya? Tidak nyaman di mana pun, dan tidak dipercaya sepenuhnya oleh siapa pun.
Pragmatisme yang cerdas seharusnya berbasis kepentingan nasional jangka panjang. Tetapi ketika keputusan tampak didorong oleh kebutuhan jangka pendek—investasi cepat, proyek instan, atau citra politik domestik—maka yang terjadi bukanlah strategi, melainkan improvisasi.Dari
Diplomasi Nilai ke Diplomasi Transaksional
Perubahan paling mencolok adalah bergesernya orientasi dari diplomasi berbasis nilai ke diplomasi transaksional. Dahulu, Indonesia berbicara tentang solidaritas Selatan-Selatan, keadilan global, dan anti-kolonialisme. Kini, bahasa yang lebih dominan adalah investasi, perdagangan, dan kerja sama militer.
Tentu saja, tidak ada yang salah dengan mengejar kepentingan ekonomi. Tetapi ketika nilai sepenuhnya ditinggalkan, Indonesia kehilangan identitas moralnya di panggung global. Kita tidak lagi dikenal sebagai negara yang “memimpin dengan hati”, melainkan sebagai negara yang “bernegosiasi dengan kalkulator”.
Dalam kondisi ini, istilah “go-blok” menjadi relevan—bukan dalam arti harfiah kebodohan, tetapi sebagai sindiran atas hilangnya arah strategis. Ketika semua keputusan didasarkan pada siapa yang memberi lebih banyak hari ini, maka politik luar negeri menjadi seperti pasar lelang: siapa menawar tertinggi, dia menang.
Risiko Geopolitik: Bermain di Antara Raksasa
Dunia saat ini ditandai oleh rivalitas besar antara kekuatan global. Amerika Serikat dan China tidak hanya bersaing secara ekonomi, tetapi juga ideologis dan militer. Dalam konteks ini, posisi Indonesia seharusnya strategis sebagai “swing state”—negara yang dapat menyeimbangkan kekuatan dan menjaga stabilitas kawasan. Namun strategi ini membutuhkan konsistensi dan kecerdasan diplomasi tingkat tinggi.
Tanpa itu, Indonesia berisiko menjadi objek tarik-menarik kepentingan. Kita bisa terjebak dalam situasi di mana setiap langkah justru memperlemah posisi tawar kita sendiri. Satirnya, kita ingin terlihat dekat dengan semua pihak, tetapi justru berakhir tidak dekat dengan siapa pun. Kita ingin mendapatkan manfaat maksimal, tetapi berisiko kehilangan kepercayaan dari semua sisi.
Politik Domestik sebagai Penentu
Tidak bisa diabaikan bahwa politik luar negeri sering kali mencerminkan dinamika domestik. Dalam konteks ini, pendekatan “go-blok” bisa dibaca sebagai perpanjangan dari gaya politik dalam negeri: cepat, pragmatis, dan berorientasi hasil instan.
Namun masalahnya, politik luar negeri tidak bekerja seperti proyek domestik. Kepercayaan internasional dibangun dalam jangka panjang.
Konsistensi lebih dihargai daripada improvisasi. Dan reputasi, sekali rusak, sulit diperbaiki. Jika politik luar negeri dijadikan alat untuk kepentingan domestik jangka pendek, maka yang dikorbankan adalah posisi strategis Indonesia di masa depan.
Satir yang Serius
Istilah “go-blok” dalam tulisan ini tentu bersifat satir. Tetapi di balik satire, ada pesan serius: Indonesia sedang berada di persimpangan. Kita bisa kembali pada esensi “bebas aktif” sebagai strategi yang cerdas dan bermartabat, atau terus melaju dalam pragmatisme tanpa arah yang berisiko.
Pilihan ini bukan sekadar soal gaya diplomasi, tetapi soal identitas nasional. Apakah Indonesia ingin dikenal sebagai negara yang memiliki prinsip dan arah, atau sebagai negara yang mudah beradaptasi tetapi sulit dipercaya?
Kembali ke Arah
Mengkritik bukan berarti menolak perubahan. Dunia memang berubah, dan Indonesia harus beradaptasi. Tetapi adaptasi tidak boleh mengorbankan prinsip. Pragmatisme harus dibingkai oleh visi. Fleksibilitas harus didasarkan pada kepentingan jangka panjang.
Indonesia tidak perlu kembali sepenuhnya ke masa lalu, tetapi harus mengambil kembali ruhnya: keberanian untuk berbeda, kemampuan untuk memimpin, dan komitmen pada nilai.
Jika tidak, maka satire “dari non-blok ke go-blok” akan berubah dari sekadar sindiran menjadi kenyataan yang sulit dibantah. Dan pada saat itu, kita tidak hanya kehilangan arah—kita kehilangan diri kita sendiri.












