Dubes Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A.K. Alsattari (tengah) dan Pembina Aqsa Working Group (AWG) Imaam Yakhsyallah Mansur (dua, kiri) memberikan penjelasan kepada wartawan terkait pelaksanaan Bulan Solidaritas Palestina (BSP) 2026 yang diawali dengan Grand Opening dan Apel Akbar di Lapangan Monas Jakarta, Minggu 1 November 2026 (Foto: AWG)
Jakarta, Infoindonesia.net – Aqsa Working Group (AWG), organisasi pergerakan yang didirikan untuk menyatukan umat dalam memperjuangkan pembebasan Masjid Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina kembali menggelar Bulan Solidaritas Palestina (BSP) sepanjang November 2026.
Ketua Presidium AWG, Muhammad Anshorullah kepada wartawan di Jakarta, Minggu (1/11) menjelaskan, BSP 2026 mengusung tema “Penguatan peran advokasi global menuju pembebasan Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina.”
“Perjuangan untuk Palestina membutuhkan napas panjang dan gerakan kolektif yang terpimpin. Semua pihak memikul tanggung jawab yang sama untuk menentang kezaliman. Terlebih Indonesia memiliki konstitusi yang tegas dan lugas dalam melawan penjajahan di muka bumi,” katanya.
Menurut Anshorullah, bulan November menyimpan sembilan momentum bersejarah Palestina. Pertama, Deklarasi Balfour pada 2 November 1917, dimana Pemerintah Inggris menyampaikan dukungan terhadap pembentukan tanah air nasional bagi orang Yahudi di Palestina. Deklarasi ini menjadi salah satu tonggak terjadinya penjajahan di Palestina.
Kedua, syahidnya Faris Odeh pada 8 November 2000 yang dikenang sebagai simbol keberanian perlawanan rakyat Palestina. Foto dirinya ketika menghadapi tank Zionis Israel dengan kerikil di tangan menjadi salah satu gambaran yang melekat dalam ingatan publik mengenai perjuangan Palestina.
Ketiga, terbitnya Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 3379 pada 10 November 1975 yang mengadopsi resolusi sebelumnya yang menyatakan bahwa Zionisme merupakan bentuk rasisme dan diskriminasi rasial.
Keempat, syahidnya Yasser Arafat pada 11 November 2004. Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) tersebut menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan politik dan diplomasi perjuangan Palestina.
Kelima, Deklarasi Kemerdekaan Palestina pada 15 November 1988, dimana Dewan Nasional Palestina memproklamasikan Kemerdekaan Negara Palestina di Aljir, Aljazair, sebagai salah satu tonggak penting perjuangan bangsa Palestina untuk menentukan nasib sendiri.
Keenam, syahidnya Izzuddin al-Qassam pada 20 November 1935. Izuddin adalah seorang ulama sekaligus tokoh perlawanan Palestina yang dikenang dalam sejarah perjuangan melawan pemerintahan Mandat Inggris pada masa itu.
Ketujuh, terbitnya Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 242 pada 22 November 1967. Resolusi yang diadopsi setelah Perang Enam Hari itu memuat prinsip-prinsip penyelesaian damai, termasuk penarikan pasukan Zionis Israel dari wilayah yang dicaplok dalam perang tersebut.
Kedelapan, terbitnya Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 181 pada 29 November 1947. Resolusi ini mengusulkan pembagian wilayah Palestina menjadi negara Arab dan negara Yahudi, dengan Yerusalem berada di bawah rezim internasional khusus. Pembagian wilayah itu jelas merampas kedaulatan rakyat Palestina.
Kesembilan, 29 November ditetapkan sebagai Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina. Tanggal ini berkaitan dengan pengadopsian Resolusi 181 pada 1947. Peringatan internasional tersebut kemudian ditetapkan oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi 32/40 B pada 1977.
Sembilan momentum ini menunjukkan bahwa persoalan Palestina tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang kebijakan internasional, perjuangan rakyat, dan upaya memperoleh kemerdekaan Palestina.
Karena itu, menurut Anshorullah, BSP 2026 mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengingat peristiwa sejarah, tetapi juga mengambil peran dalam membangun kesadaran, memperkuat advokasi, dan menyuarakan keadilan bagi Palestina.
Dalam kaitan ini, Ketua BSP 2026 Yusuf Maulana mengemukakan, penyelenggaraan BSP merupakan upaya untuk menjaga konsistensi dukungan masyarakat Indonesia terhadap Palestina melalui gerakan yang terarah dan berkelanjutan.
Berdasarkan berbagai peristiwa sejarah Palestina pada bulan November, AWG berinisiatif menyelenggarakan Pekan Solidaritas Palestina pada November 2021 selama satu pekan.
Inisiatif ini dilaksanakan dengan persetujuan dan sepengetahuan pembina AWG, Imam Yakhsyallah Mansur. Kegiatan tersebut kemudian berlanjut pada November 2022 dan berkembang menjadi Bulan Solidaritas Palestina hingga saat ini.
AWG jug memandang bahwa advokasi Palestina perlu dilakukan melalui berbagai gerakan strategis, termasuk pendidikan, media, diplomasi masyarakat, kegiatan kemanusiaan, dan penguatan jejaring solidaritas.
Agenda Utama BSP 2026
Disebutkan, AWG telah menyiapkan sejumlah agenda utama dalam rangkaian BSP 2026. Kegiatan tersebut mencakup aksi publik, olahraga solidaritas, edukasi tentang Al-Aqsa, konsolidasi, diskusi jurnalistik, hingga advokasi di ruang kebijakan.
Rangkaian kegiatan BSP 2026 dimulai dengan Grand Opening dan Apel Akbar pada 1 November 2026 di Lapangan Monas, Jakarta. Pembukaan BSP 2026 menjadi momentum untuk mengawali rangkaian gerakan solidaritas Palestina sekaligus menghimpun partisipasi masyarakat dalam agenda advokasi sepanjang bulan November.
Agenda berikutnya adalah Solidarity Run for Palestine pada 8 November 2026, berlokasi di Masjid Darussalam, Kota Wisata Cibubur. Kegiatan olahraga solidaritas ini mengajak masyarakat menyatukan semangat kebugaran, kepedulian kemanusiaan, dan dukungan terhadap Palestina.
Selanjutya adalah Festival Baitul Maqdis pada 8 dan 22 November 2026, berlokasi di Masjid Darussalam, Kota Wisata Cibubur. Festival ini menjadi ruang untuk memperkuat pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap Baitul Maqdis serta kedudukan Masjid Al-Aqsa dalam sejarah dan kehidupan umat Islam.
Selain itu ada Summit for Palestine pada 14 dan 15 November 2026, berlokasi di Gunung Gede, Jawa Barat. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat konsolidasi dan peran berbagai elemen dalam gerakan solidaritas Palestina, termasuk komunitas pencinta alam.
Tidak kalah pentingnya adalah “Focus Group Discussion: Journalists for Palestine” pada 19 November 2026. Forum diskusi ini melibatkan kalangan jurnalis untuk membahas peran media dalam pemberitaan Palestina, penguatan perspektif publik, serta penyampaian informasi yang akurat dan bertanggung jawab.
Agenda selanjutnya adalah Simposium Anti-Zionis pada 25 November 2026 di Gedung DPR RI. Simposium ini menjadi ruang pembahasan dan penguatan advokasi terkait persoalan Palestina serta sikap terhadap kebijakan dan praktik yang bertentangan dengan hak-hak rakyat Palestina.
Kegiatan BSP dilanjutkan dengan Long March Cinta Al-Aqsa pada 28 dan 29 November 2026, berlokasi di Masjid At-Taqwa, Cileungsi, Bogor. Aksi jalan panjang ini menjadi sarana menyuarakan kepedulian terhadap Al-Aqsa dan Palestina.
Terakhir adalah Closing BSP 2026 pada 29 November 2026, berlokasi di Masjid Istiqlal, Jakarta. Penutupan BSP 2026 bertepatan dengan “Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina”.
AWG yang didirikan pada 21 Agustus 2008 itu kemudian mengajak rakyat Indonesia untuk mengutuk Zionisme, memboikot seluruh produk yang terafiliasi dengan Zionis Israel, dan menuntut dunia untuk menyeret para pelaku genosida ke pengadilan internasional. (Red/Aat SS).











