Berita

Masjid Tak Sekadar Ibadah, Gubernur Ria Norsan Dorong Multifungsi Dipuji UAS

Infoindonesia
174
×

Masjid Tak Sekadar Ibadah, Gubernur Ria Norsan Dorong Multifungsi Dipuji UAS

Sebarkan artikel ini
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan dan UAS dorong masjid jadi pusat ekonomi umat & UMKM. Masjid Ismuhu Yahya jadi contoh dengan bisnis kopi dan fungsi sosial.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan dan UAS dorong masjid jadi pusat ekonomi umat & UMKM. Masjid Ismuhu Yahya jadi contoh dengan bisnis kopi dan fungsi sosial.

PONTIANAK, Infoindonesia.net – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Ria Norsan secara tegas mendorong setiap masjid di provinsi tersebut untuk mengadopsi peran multifungsi, melampaui fungsi ritual ibadah semata.

Dorongan ini sejalan dengan pandangan Ulama terkemuka, Ustadz H. Abdul Somad, Lc., MA. (UAS), yang memuji Masjid Ismuhu Yahya Pontianak sebagai model ideal karena berhasil mengintegrasikan aspek keilmuan, sosial, dan entrepreneurship, termasuk melalui pengembangan bisnis seperti Saujana Coffee & Eatery.

Masjid Berdaya

Gubernur Ria Norsan, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kalbar, secara konsisten menyuarakan agar masjid bertransformasi menjadi pusat penggerak roda ekonomi umat.

Kehadirannya pada peringatan satu tahun Saujana Coffee & Eatery pada Jumat (3/10/2025) menjadi penegas dukungan terhadap model bisnis yang dikembangkan oleh Masjid Ismuhu Yahya.

Kafe ini merupakan contoh nyata bagaimana masjid dapat menjadi simpul pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Dengan cara pandang seperti ini, secara tidak langsung dapat mendorong para pengurus masjid dan jemaah untuk berani mengambil peran lebih dalam menciptakan kemandirian dan kekuatan ekonomi umat melalui pemberdayaan UMKM,” tutur Gubernur Ria Norsan.

Pujian Sang Ulama

Acara perayaan satu tahun Saujana Coffee & Eatery kian berkesan dengan kehadiran UAS, yang sedang berada di Pontianak dalam rangkaian agenda Maulid Akbar.

Dalam sambutannya, UAS menekankan bahwa secara umum, masjid harus memiliki tiga fungsi utama, yaitu unggulan dalam keilmuan, unggulan dalam sosial, dan mampu menjadi enterpreneur.

“Dan saya cukup kagum dengan Masjid Ismuhu Yahya, di mana dia memiliki ketiga-tiganya. Baik kajian ilmu seperti pengajian, kemudian sosial seperti ATM beras, serta jaringan bisnis seperti UMKM. Nah, inilah yang harus menjadi contoh bagi masjid yang lain,” puji UAS.

Fungsi Tiga Pilar

Pesan dari dua tokoh penting, Norsan dan UAS, memberikan landasan filosofis yang kuat bagi revitalisasi fungsi masjid.

Konsep ini menantang pandangan tradisional yang membatasi peran masjid hanya sebagai tempat salat.

Sebaliknya, masjid didorong untuk menjadi institusi multi-sektor yang aktif dalam:

Keilmuan (Pendidikan): Sebagai pusat kajian keagamaan dan ilmu pengetahuan umum.

Sosial (Kesejahteraan): Sebagai pusat layanan dan bantuan sosial bagi masyarakat, seperti program santunan, ATM beras, atau koperasi.

Entrepreneurship (Ekonomi): Sebagai inkubator atau penggerak ekonomi umat melalui pengembangan unit bisnis yang sah dan produktif, seperti kafe, minimarket, atau fasilitas UMKM.

Integrasi ketiga pilar ini dinilai vital untuk menciptakan kemandirian finansial bagi masjid dan jemaahnya.

Masjid yang berdaya ekonomi mampu mendanai kegiatan dakwah dan sosialnya tanpa selalu bergantung pada donasi eksternal.

Transformasi Total Wujud Nyata

Masjid Ismuhu Yahya telah membuktikan bahwa transformasi ini mungkin dilakukan. Dengan mengembangkan bisnis yang modern dan diminati, seperti coffee shop, masjid tidak hanya mendapatkan pemasukan rutin tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial baru bagi anak muda dan komunitas.

Model ini secara efektif memperluas jangkauan dakwah dan pelayanan masjid kepada segmen masyarakat yang lebih luas, sekaligus menjadi etalase kemandirian ekonomi umat.

Dorongan Gubernur Ria Norsan dan validasi dari UAS diharapkan menjadi momentum bagi Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kalbar untuk menyusun program strategis yang dapat mereplikasi keberhasilan Masjid Ismuhu Yahya di seluruh penjuru Kalimantan Barat.

Tujuannya adalah memastikan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tiang spiritual, tetapi juga sebagai pilar ekonomi dan sosial masyarakat.