BeritaHukumKalbar,

PARAH! Tambang Emas Berkedok Silika di Mandor, CV Adi Karya Cahaya Sejati Libatkan TKA Asing China dan Malaysia

Infoindonesia
54
×

PARAH! Tambang Emas Berkedok Silika di Mandor, CV Adi Karya Cahaya Sejati Libatkan TKA Asing China dan Malaysia

Sebarkan artikel ini
Gambar: Gemini.

MANDOR, Infoindonesia.net – Sebuah babak baru dalam dunia pertambangan nasional segera ditayangkan. Bukan dari panggung seminar ber-AC, melainkan dari sebuah panggung pasir dan batu di Dusun Delan, Desa Simpang Kasturi, Kecamatan Mandor. Di sinilah sebuah mahakarya berjudul “Sulap Kuarsa Jadi Emas” tengah dipentaskan oleh para maestro CV Adi Karya Cahaya Sejati. Sebuah revolusi industri yang, apabila benar, layak dapat medali dari negeri dongeng.

Senin sore, 29 Juni 2026, pentas itu nyaris sempurna. Joni Iskandar, seorang mantan aktor internal pementasan yang kini memilih jadi pembocor rahasia, mengurai kisahnya kepada Redaksi Satu. Sebuah tuturan yang mengiris batas antara realitas industri dan sinetron absurd.

Awal Muasal Sulap


Drama ini dimulai manis pada tahun 2023. “Mereka datang bak pangeran berkuda putih, mengaku dari CV Adi Karya Cahaya Sejati, mengantongi IUP Kuarsa atau Silika. Sah, legal, terhormat,” ujar Joni. Modal dengungan kata “IUP Silika” itulah, lahan warga seluas 40 hektare diborong dengan narasi pembangunan. Harga? Fantastis, Rp25 juta per hektare. Sekadar catatan kaki dalam dongeng investasi.

Adegan berubah cepat di tahun 2024. Jalan dibuka, hutan diratakan, dan tirai panggung mulai dipasang. Bukan cuma sekop dan dulang manual yang menari-nari. Puluhan kontainer dari Tiongkok, sejumlah 17 unit, merapat di pelabuhan lima bulan silam. Isinya bukan buku resep masakan, melainkan alat pengeruk emas. Dari Malaysia, satu dump truk peralatan menyusul lewat jalur Jagoi Babang. Belasan ekskavator, Kobelco dan Kato, didatangkan—meski bekas, cukup garang untuk mengaduk-aduk mimpi.

Sebuah panggung raksasa pun berdiri. Judul lakonnya masih “Tambang Kuarsa”, tapi dialog di atas panggung adalah emas, batu, dan tembaga.

Figur Dewa Dongeng

Pertunjukan kolosal ini dipimpin oleh lima orang “dewa bisnis” dan dijalankan oleh belasan teknisi ilmuwan asing. Satu bos lokal, Hasan Suntio, memegang kendali panggung dari tanah Pontianak. Empat bos lainnya dan dua belas teknisi adalah warga Negeri Tirai Bambu. Seorang mekanik dari Malaysia menjadi penjaga ritme mesin. Sementara itu, pribumi lokal hanya kebagian peran figuran sebagai operator, digaji dua juta rupiah sebulan lebih sedikit. Ironi yang memilukan: tuan rumah di negeri sendiri hanya jadi tukang sapu panggung megah itu.

Pesan Gaib Sang Bos

Puncak absurditas terjadi saat Joni menerima bisikan sakti dari sang bos lokal. “Kita jangan bilang kerja emas. Bilang saja kerja batu dan pasir,” pesan Hasan Suntio, seperti ditirukan Joni. Di situlah tabir kebenaran tersingkap. Legalitas perusahaan hanya tameng rapuh. Pelang nama saja tak terpampang. Surat izin, konon, masih dalam tahap “omong-omongan” dengan mantan kepala desa untuk diajukan ke Bupati Landak, Karolin Margret Natasa. Sebuah proses perizinan yang maju-mundur bak tarian poco-poco birokrasi.

Harapan Joni kini sederhana: keadilan. “Kami ingin daerah maju, ekonomi berputar. Nyatanya, mimpi ini hanya jadi komoditas mereka. Kami hanya menonton panggung emas dibangun di atas tanah kami, sambil mengantongi gaji receh,” tutupnya dengan nada parodi penuh nestapa.

Di negeri ini, kuarsa dan silika rupanya hanya nama samaran untuk sesuatu yang lebih mahal. Sebuah dongeng pengantar tidur yang berhasil menyulap pasir jadi emas, dan peraturan jadi debu. Pemerintah bijak, tinggal menunggu babak ke berapa drama ini akan diselidiki. Atau, justru diabadikan menjadi legenda wajib di buku teks: How to Turn Sand into Gold 101.