Berita

Akhmad Munir Resmi Pimpin PWI 2025-2030, Era Baru Dimulai

Infoindonesia
27
×

Akhmad Munir Resmi Pimpin PWI 2025-2030, Era Baru Dimulai

Sebarkan artikel ini
Akhmad Munir terpilih Ketua Umum PWI 2025-2030 lewat kongres di Cikarang. Kemenangan ini menandai rekonsiliasi besar organisasi pers tertua di Indonesia.
Akhmad Munir terpilih Ketua Umum PWI 2025-2030 lewat kongres di Cikarang. Kemenangan ini menandai rekonsiliasi besar organisasi pers tertua di Indonesia.
Example 468x60

CIKARANG, Infoindonesia.net -Pria itu tersenyum semringah. Perawakannya tegap, langkahnya mantap. Berwibawa.

Dialah Akhmad Munir, Direktur Utama LKBN ANTARA yang kini resmi menahkodai Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai Ketua Umum periode 2025–2030.

Example 300x600

Di hadapan puluhan delegasi dari 39 provinsi, namanya diumumkan sebagai pemenang setelah mengantongi 52 suara, mengungguli rivalnya Hendry CH Bangun yang hanya meraih 35 suara.

Kemenangan itu bukan sekadar angka. Ia menandai babak baru perjalanan PWI, organisasi wartawan tertua di Indonesia yang telah berdiri sejak 9 Februari 1946.
Di tengah riuh sorak sorai, Munir menyebut hasil kongres ini sebagai “kemenangan seluruh wartawan Indonesia”, bukan sekadar prestasi pribadi.

“Ini amanah besar. Kita akan bersama-sama mengembalikan marwah pers, menjaga independensi, dan memperjuangkan kesejahteraan wartawan,” ujar Cak Munir tegas, usai penghitungan suara di Gedung BPPTIK Komdigi, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Sabtu (30/8/2025).

Pemilihan yang Ketat

Proses pemilihan berjalan ketat dan penuh dinamika. Pada awal penghitungan suara, sempat muncul kejutan: Hendry CH Bangun unggul tipis.

Namun situasi berbalik ketika Munir melejit di angka 15 suara. Sejak itu, langkahnya sulit dihentikan hingga menutup kemenangan di angka 52.

Sebanyak 87 pemilik suara hadir dalam forum tertinggi organisasi ini. Mereka adalah perwakilan dari 39 provinsi, bukti nyata legitimasi penuh dalam proses demokratisasi internal PWI.

Tak hanya kursi ketua umum, kongres juga memilih Atal S Depari sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI. Atal unggul tipis dengan 44 suara, mengalahkan Sihono HT yang memperoleh 42 suara.

Simbol Kemenangan

Setelah pengumuman resmi, suasana kongres meledak dalam sorak dan tepuk tangan. Sebagai tanda kemenangan, panitia mengalungkan selendang sutra khas Bugis ke pundak Munir dan Atal.

Sebuah simbol sederhana, namun sarat makna: pers Indonesia siap menapaki jalan baru.

Tanpa menunggu lama, Munir—yang akrab disapa Cak Munir—langsung memimpin rapat pleno ketiga Kongres PWI.

Forum tersebut menetapkan tiga formatur Fathurrahman (Sumatera), Lutfil Hakim (Jawa), dan Sarjono (Sulawesi), yang akan bekerja selama 30 hari menyusun kepengurusan lengkap PWI Pusat 2025–2030.

Rekonsiliasi yang Ditunggu

Lebih dari sekadar kontestasi kursi ketua, kongres ini menjadi momentum penting rekonsiliasi internal PWI. Dalam beberapa tahun terakhir, organisasi ini diguncang dualisme kepengurusan yang mengikis kepercayaan publik.

Munir menyadari tantangan itu. Dalam visi-misinya, ia menekankan pentingnya rekonsiliasi total dan konsolidasi organisasi.

“Dampak dualisme membuat branding PWI kehilangan kepercayaan. Tugas utama kita adalah mengembalikan trust, membangun citra, dan menjaga marwah wartawan,” tegasnya.

Dukungan Pemerintah dan Dewan Pers

Kongres PWI 2025 dibuka oleh Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi Informasi dan Digital (Komdigi). Ia menegaskan pemerintah tidak melakukan intervensi dalam pemilihan, hanya memfasilitasi tempat.

“Kami berharap kongres ini membawa persatuan, soliditas, dan kepemimpinan baru yang diterima semua pihak,” ujarnya.

Senada, Ketua Dewan Pers, Prof. Komaruddin Hidayat, menyambut baik langkah rekonsiliasi. Ia mengingatkan bahwa wartawan tidak bisa menyerukan persatuan bangsa bila organisasinya sendiri terpecah.

“Terjadi perbedaan wajar, tetapi jangan rumahnya dibakar. Rekonsiliasi ini adalah momen penting memulihkan kembali PWI,” katanya.

Tantangan Era Digital

Terpilihnya Munir menandai babak baru kepemimpinan PWI. Namun jalan ke depan tidaklah mudah.

Dunia pers kini bergulat dengan derasnya arus digitalisasi informasi. Media sosial, algoritma, dan hoaks menjadi tantangan serius bagi wartawan profesional.

Cak Munir menegaskan, PWI harus membangun ekosistem pers Indonesia yang tangguh di era disrupsi digital.

Salah satu program yang ia rencanakan adalah menggelar festival pers nasional sebagai cara mengembalikan citra organisasi sekaligus mempererat relasi dengan publik.

“Saya ingin PWI bukan hanya rumah besar wartawan, tapi juga lokomotif ekosistem pers nasional yang adaptif terhadap perubahan,” ucapnya.

Makna Simbolis

Terpilihnya Munir juga punya makna simbolis. Sebagai sosok yang lama berkarier di ANTARA, ia dianggap mewakili semangat profesionalisme dan independensi.
Kemenangan ini memberi sinyal bahwa PWI ingin kembali fokus pada jati diri: memperjuangkan martabat wartawan, bukan sekadar arena politik internal.

Bagi banyak anggota, momen ini dirasakan seperti “pulang ke rumah”. Setelah bertahun-tahun dilanda perpecahan, akhirnya organisasi wartawan terbesar di Indonesia bisa kembali bersatu.

Suara dari Daerah

Delegasi dari berbagai provinsi menyambut kemenangan Munir dengan penuh harapan. Perwakilan PWI Sumatera menyebut kemenangan ini sebagai titik balik.

“Pers di daerah butuh payung yang solid. Kami ingin PWI tidak hanya kuat di pusat, tetapi juga hadir nyata di daerah,” ujar seorang delegasi.

Dari Jawa hingga Sulawesi, suara serupa menggema: harapan agar kepemimpinan Munir mampu menjawab kebutuhan wartawan di lapangan—mulai dari perlindungan hukum, kesejahteraan, hingga pelatihan menghadapi era digital.

Menatap Lima Tahun ke Depan

Periode kepemimpinan 2025–2030 akan menjadi ujian berat bagi Munir. Di satu sisi, ia harus memulihkan kepercayaan publik terhadap PWI.

Di sisi lain, ia mesti menyiapkan wartawan menghadapi transformasi besar-besaran di dunia informasi.

Namun satu hal jelas dengan dukungan mayoritas suara dan legitimasi kuat, Munir memulai langkah dengan pijakan kokoh.

Kongres PWI 2025 bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ia adalah momentum rekonsiliasi, simbol persatuan, dan janji baru untuk menjaga kebebasan pers yang bertanggung jawab.

Di pundak Akhmad Munir kini bertumpu harapan ribuan wartawan dari Sabang sampai Merauke.

Sejarah akan mencatat apakah ia mampu membawa PWI bangkit, solid, dan relevan di tengah badai digitalisasi.

Senyumnya semringah malam itu bukan sekadar ekspresi pribadi. Ia adalah senyum seluruh wartawan Indonesia yang kembali menemukan rumah besarnya. (Wawan Suwandi)

Example 300250
Example 120x600