Kabupaten Bogor, Infoindonesia.net – Suasana haru dan penuh doa menyelimuti kediaman almarhum di Perumahan Cileungsi Hijau, Kabupaten Bogor, Sabtu (16/5/2026), dalam acara peringatan 40 hari wafatnya. Keluarga besar, sahabat, kolega, hingga sejumlah tokoh nasional tampak hadir untuk mengenang perjalanan hidup almarhum yang dinilai telah banyak memberikan teladan dalam kehidupan maupun pengabdian.
Acara diawali dengan sambutan dari pihak keluarga yang diwakili oleh Bapak Arwan. Dalam penyampaiannya, ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran para sahabat, kerabat, dan kolega yang telah meluangkan waktu untuk bersama-sama mendoakan almarhum H. Asdjudin Rana Bin H. Urip dalam peringatan 40 hari wafatnya.
“Atas nama keluarga besar, kami menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas segala doa, perhatian, serta dukungan yang terus diberikan kepada keluarga sejak almarhum berpulang hingga hari ini,” ujar Arwan dengan penuh haru.
Sementara itu, sambutan dari keluarga besar purnabakti Pemasyarakatan Pasaur Matua disampaikan oleh Bapak Mardjaman, mantan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham RI periode 2004–2007. Dalam sambutannya, Mardjaman mengenang sosok almarhum sebagai pribadi yang memiliki loyalitas tinggi, pekerja keras, serta sosok sahabat yang selalu menjaga nilai persaudaraan dan kebersamaan.
“Beliau adalah figur yang penuh dedikasi, memiliki semangat pengabdian luar biasa, dan selalu menempatkan persahabatan di atas segalanya. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi kami semua,” ungkap Mardjaman.
Suasana semakin khidmat saat rangkaian doa bersama dan tahlil dipanjatkan untuk almarhum. Para tamu yang hadir tampak larut dalam doa dan kenangan atas perjalanan hidup almarhum yang dikenal luas sebagai sosok bersahaja, tegas, namun penuh kepedulian terhadap sesama.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kesempatan tersebut, di antaranya mantan Sekretaris Jenderal Kemenkumham RI periode 2001–2005 Dr. Hassanudin Massaile, mantan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham RI periode 2001–2004 Adi Suyatno, mantan Hakim Agung sekaligus Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial Bapak Suwardi, beserta keluarga, sahabat, dan para kolega lainnya.

Kehadiran para tokoh nasional serta sahabat lama menjadi bukti bahwa almarhum H. Asdjudin Rana merupakan sosok yang memiliki hubungan persaudaraan dan pengabdian yang begitu kuat semasa hidupnya. Momentum peringatan 40 hari ini pun tidak hanya menjadi ajang doa bersama, tetapi juga mempererat kembali tali silaturahmi antarsahabat dan keluarga besar yang pernah bersama almarhum dalam perjalanan pengabdian dan kehidupan
Sosok almarhum H. Asdjudin Rana Bin H. Urip bukan sekadar dikenal sebagai pribadi yang bersahaja dan hangat di tengah keluarga maupun sahabat. Di mata para kolega dan sahabat seperjuangannya, almarhum merupakan figur penuh keteguhan, kegigihan, kerja keras, serta pengabdian tanpa pamrih yang membekas kuat hingga akhir hayatnya.
Tak heran jika semasa hidup, almarhum mendapat julukan “Sang Jenderal Tangkil”, sebuah sebutan yang lahir dari karakter kepemimpinan, ketegasan, loyalitas, dan semangat pantang menyerah yang melekat dalam dirinya. Julukan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghormatan dari sahabat dan rekan-rekannya atas dedikasi panjang yang dijalani dengan penuh tanggung jawab serta ketulusan.
Kehadiran para tokoh dan sahabat lama menjadi bukti bahwa almarhum meninggalkan jejak persahabatan dan pengabdian yang begitu kuat. Sosoknya dikenang bukan karena jabatan ataupun kedudukan, melainkan karena ketulusan hati serta dedikasi yang dijalani tanpa pamrih.
Bagi keluarga dan para sahabat, H. Asdjudin Rana akan selalu dikenang sebagai figur pemersatu, pejuang kehidupan, sekaligus “Sang Jenderal Tangkil” yang mengajarkan arti loyalitas, kerja keras, dan pengabdian sejati kepada sesama.(raden)












