Berita

Wawan Suwandi: PWI Perkuat Sinergi dan Kepercayaan Publik di Bawah Kepemimpinan Ahmad Munir

Infoindonesia
168
×

Wawan Suwandi: PWI Perkuat Sinergi dan Kepercayaan Publik di Bawah Kepemimpinan Ahmad Munir

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

CIKARANG, Infoindonesia.net – Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang digelar di Gedung BPPTIK Komdigi, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat Sabtu (30/8/2025), nama Ahmad Munir mencuat sebagai pemenang.

Pria tinggi tegap, Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA ini berhasil mengumpulkan 52 suara, mengungguli pesaingnya, Hendry CH Bangun, yang memperoleh 35 suara dari total 87 pemilik suara yang hadir mewakili 39 provinsi se-Indonesia.

Example 300x600

Kemenangan ini bukan sekadar kemenangan individu. Ini adalah kemenangan simbolik bagi upaya penyatuan kembali organisasi wartawan tertua di Tanah Air yang sempat terbelah akibat dualisme kepengurusan.

Bagi Plt Ketua PWI Kalimantan Barat, Wawan Suwandi, kemenangan Munir adalah kemenangan bersama, khususnya bagi PWI Kalimantan Barat.

“Mari sikapi perbedaan dengan bijak demi kebersamaan,” tegas Wawan Suwandi, dengan nada tone bijaksana dewasa dalam ragam hal.

Pemilihan ini juga berlangsung tertib, transparan, dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kongres PWI.

Tak ada gesekan, tak ada ricuh. Hanya ada satu tujuan memilih pemimpin yang bisa menyatukan, bukan memecah.

Satu Hati

Kemenangan Ahmad Munir menjadi penanda berakhirnya babak kelam polarisasi internal PWI.

Dalam sambutannya usai terpilih, Munir menegaskan bahwa kemenangan ini bukan milik pribadinya, melainkan milik seluruh anggota PWI.

“Ini kemenangan kita bersama untuk menjaga marwah profesi wartawan,” ucapnya dengan suara tegas namun teduh.

“Kita harus bergerak cepat, tapi tidak terburu-buru. Kita butuh kepengurusan yang kuat, yang mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Cak Munir.

Kongres yang dihadiri oleh perwakilan dari seluruh penjuru Nusantara ini juga diawasi langsung oleh Dewan Pers dan disaksikan oleh pejabat pemerintah, menandakan pentingnya momen ini bagi dunia kewartawanan nasional.

Visi utama Ahmad Munir sejak awal kampanye adalah rekonsiliasi total. Ia sadar betul bahwa dualisme kepengurusan di tingkat pusat telah merusak branding PWI di mata publik, media, dan institusi negara.

“Branding kita kehilangan trust. Tugas utama kita adalah membangun kembali kepercayaan,” ia menegaskan.

Langkah Bijaksana Moral

Pernyataan ini mendapat dukungan penuh dari Profesor Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers. Ia menyebut rekonsiliasi PWI sebagai langkah bijaksana dan moral.

“Secara moral, jika PWI ingin mengajak persatuan bangsa, tidak sah jika mereka sendiri tidak utuh,” ucapnya mengingatkan etika di atas segalanya, bukan hanya bisa nyinyir ke orang lain labeling.

Ia menambahkan, konflik internal PWI ibarat rumah tangga yang retak.
“Pertengkaran itu wajar, tapi rumahnya jangan sampai dibakar,” tuturnya disambut tepuk tangan meriah.

Proses Demokrasi PWI

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Komdigi), Nezar Patria, yang membuka kongres, menegaskan bahwa pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator.

“Kami tidak intervensi. Ini adalah proses demokrasi internal PWI,” ujar Nezar Patria.

Pemerintah, kata Nezar Patria, sangat mengharapkan PWI bisa bangkit, bersatu, dan kembali menjadi garda terdepan jurnalisme profesional.

Bangun Jalan Poros

Di tengah arus disrupsi digital, tantangan jurnalisme semakin kompleks. Media sosial menjadi sumber informasi utama masyarakat, sering kali tanpa verifikasi.

Hoaks, deepfake, dan clickbait merajalela. Dalam konteks inilah Ahmad Munir menegaskan komitmennya membangun ekosistem pers yang profesional, beretika, dan adaptif.

“Saya akan membangun ekosistem pers Indonesia di tengah disrupsi informasi media sosial,” ia berjanji amanah.

Salah satu langkah konkret yang akan segera dilakukan adalah penyelenggaraan Festival Pers Nasional.

Acara ini bertujuan mengembalikan citra PWI di mata publik, sekaligus menjadi ajang silaturahmi, edukasi, dan inovasi bagi wartawan muda dan senior.

Festival ini juga akan menjadi wadah kolaborasi antara media, pemerintah, akademisi, dan swasta.

“Pers tidak bisa bekerja sendiri. Butuh ekosistem yang saling mendukung,” tuturnya mengingatkan kolaborasi adalah kunci.

Selain itu, PWI di bawah kepemimpinannya akan fokus pada peningkatan kompetensi wartawan melalui pelatihan berbasis digital.

Perlindungan hukum dan keselamatan jurnalis di lapangan. Revitalisasi Dewan Kode Etik untuk memastikan integritas profesi.

Kolaborasi dengan media asing untuk memperkuat diplomasi pers.

Hormat Tetap

Selain memilih Ketua Umum, Kongres PWI 2025 juga menetapkan Atal S Depari sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI.

Mantan Ketua Umum PWI ini unggul tipis dengan 44 suara, mengalahkan Sihono HT yang memperoleh 42 suara.

Kemenangan Atal menunjukkan kepercayaan besar terhadap figur yang dikenal tegas, berintegritas, dan konsisten menjaga etika jurnalistik.

Dewan Kehormatan akan menjadi penjaga marwah profesi. Mereka yang melanggar kode etik akan diadili secara internal, tanpa tekanan eksternal.

“Kami akan tegakkan aturan dengan adil, tanpa pandang bulu,” Atal menegaskan soal itu.

Keberadaan Dewan Kehormatan yang kuat diharapkan bisa menjadi tameng dari praktik jurnalisme abal-abal yang merusak kepercayaan publik.

Harapan Baru

Terpilihnya Ahmad Munir menandai awal dari era baru PWI. Organisasi yang didirikan pada 9 Februari 1946 ini kembali pada relnya sebagai wadah persatuan, pelindung profesi, dan penjaga kebenaran.

Dengan latar belakang sebagai Direktur Utama ANTARA, Munir membawa pengalaman manajerial, jaringan luas, dan pemahaman mendalam tentang dinamika media nasional dan internasional.

Ia bukan sekadar birokrat media, tapi juga praktisi yang memahami darah daging jurnalistik.

Visinya jelas menyatukan, memperkuat, dan memodernisasi PWI. Tidak hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai institusi moral yang bisa diandalkan bangsa.

Tantangan ke depan tidak ringan. Isu kebebasan pers, kriminalisasi jurnalis, dan krisis kepercayaan publik terhadap media masih menghantui.

Namun, dengan rekonsiliasi yang tuntas dan komitmen kolektif, PWI di bawah kepemimpinan Ahmad Munir diharapkan bisa menjadi aktor utama dalam transformasi jurnalisme Indonesia.

Kongres PWI 2025 bukan sekadar ritual pemilihan ketua. Ini adalah titik balik sejarah. Dari Cikarang, sebuah momentum besar lahir: persatuan wartawan Indonesia.

Ahmad Munir bukan hanya memenangkan suara. Ia memenangkan harapan. Harapan untuk pers yang lebih profesional, beretika, dan berdaulat.

Harapan untuk PWI yang kembali dihormati, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi oleh rakyat.

Di tengah badai informasi, PWI harus menjadi mercusuar. Dan kini, dengan komandan baru, kapal pers nasional siap berlayar menuju masa depan yang lebih terang.

Kemenangan Ahmad Munir dalam Kongres PWI 2025 bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari transformasi besar.

Dengan semangat rekonsiliasi, komitmen profesionalisme, dan visi membangun ekosistem pers modern.

PWI di bawah kepemimpinan Ahmad Munir diharapkan bisa menjadi tulang punggung jurnalisme Indonesia yang berintegritas, independen, dan adaptif di era digital.

Masa depan pers ada di tangan mereka yang berani menyatukan, bukan memecah. Dan hari ini, PWI memilih untuk bersatu. (M Tasya)

Example 300250
Example 120x600